Renungan Mezbah KeluargaSelasa, 8 September 2026Bacaan Alkitab: Yehezkiel 28–30Perenungan: Yehezkiel 28:2, 17; 29:3; 30:6=====================*“Ketika Merasa Diri Terlalu Hebat”*Saudara.... Ada ungkapan Jawa yg sederhana: _“Aja dumeh.”_Jangan mentang-mentang.Mentang-mentang punya jabatan, lalu merasa bisa mengatur semuanya. Mentang-mentang punya uang, merasa semua bisa dibeli. Mentang-mentang pintar, menganggap orang lain bodoh.Kadang yg membuat manusia jatuh bukan karena ia tidak punya apa-apa, tetapi justru karena _merasa sudah punya segala-galanya._Nah... Yehezkiel 28 melanjutkan kisah Tirus yg kemarin kita baca. Kali ini Tuhan berbicara kepada rajanya:_"Karena hatimu menjadi tinggi dan engkau berkata: Aku adalah Allah! Aku duduk di takhta Allah..."_ (Yehezkiel 28:2)Waduh.... ini sudah kelewatan.Keberhasilan membuatnya tidak hanya merasa hebat, tetapi mulai menempatkan dirinya seperti Tuhan.Padahal Tuhan berkata:_"Engkau adalah manusia, bukanlah Allah..."_Di sinilah bahayanya kesombongan. Bukan sekadar suka pamer atau membanggakan diri. Kesombongan yg paling dalam adalah ketika kita mulai merasa _tidak membutuhkan Tuhan._Pasal 28 kemudian berkata:_"Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu."_ (Yehezkiel 28:17)Perhatikan....Kecantikan, kepandaian dan keberhasilan sebenarnya adalah anugerah. Tetapi anugerah bisa berubah menjadi jebakan ketika kita mulai menganggap semuanya berasal dari kehebatan kita sendiri.Lalu pasal 29–30 beralih kepada Mesir.Firaun juga punya persoalan yg sama.Ia berkata:_"Sungai Nil aku punya, aku yang membuatnya."_ (Yehezkiel 29:3)Lho.... 😁Sungai Nil yg menjadi sumber kehidupan Mesir dianggap sebagai miliknya sendiri.Mesir memang hebat. Peradabannya maju, militernya kuat, ekonominya ditopang Sungai Nil. Tidak heran kalau Firaun merasa sangat berkuasa.Tetapi Tuhan mengingatkan bahwa kekuatan Mesir pun bisa runtuh:_"Orang-orang yang mendukung Mesir akan jatuh dan kecongkakan kekuatannya akan runtuh."_ (Yehezkiel 30:6)Saudara.... kalau kita perhatikan pasal 28–30, baik Tirus maupun Mesir punya penyakit yg sama: _merasa terlalu hebat._Tirus membanggakan kecantikan, kekayaan dan hikmatnya.Mesir membanggakan kekuatan dan sumber kehidupannya.Keduanya lupa bahwa manusia tetaplah manusia.Nah... mungkin kita tidak pernah berkata, _“Aku adalah Allah.”_ Tentu saja tidak.Tetapi sikap hidup kita kadang bisa mengatakan hal yg sama.Kita membuat keputusan tanpa bertanya kepada Tuhan. Merencanakan semuanya seolah-olah masa depan sepenuhnya berada di tangan kita.Ketika berhasil kita berkata: _“Ini karena kerja kerasku.”_Tetapi begitu gagal...._"Tuhan, kok Engkau biarkan ini terjadi?"_ 😁Aneh juga ya....Waktu berhasil, kita yg hebat. Waktu gagal, Tuhan yg disalahkan.Karena itu, _aja dumeh._Kalau hari ini kita berhasil, bersyukurlah. Kalau diberi kepandaian, gunakanlah dengan rendah hati. Kalau diberi jabatan, pakailah untuk melayani. Kalau diberi kekayaan, jadilah berkat.Sebab semua yg kita miliki bukan alasan untuk meninggikan diri, tetapi kesempatan untuk memuliakan Tuhan.*Semakin banyak yg Tuhan percayakan kepada kita, seharusnya semakin sadar kita bahwa semuanya adalah anugerah.**Pertanyaan Refleksi*1. Adakah keberhasilan, kemampuan, kekayaan atau jabatan yg tanpa sadar mulai membuat kita merasa lebih hebat daripada orang lain?2. Ketika berhasil, apakah kita masih sungguh-sungguh menyadari bahwa semua yg kita miliki adalah anugerah Tuhan?*Mari kita berdoa:*"Tuhan, jagalah hati kami supaya tidak menjadi sombong ketika Engkau memberi keberhasilan. Ingatkan kami bahwa kami tetap manusia dan Engkaulah Tuhan. Ajari kami menerima setiap kemampuan, jabatan dan berkat sebagai anugerah yg harus kami gunakan untuk melayani dan memuliakan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin."TAD – Aniopen.spotify.com/episode/5lzVXRTZDGVJcwENAXmpef?si=x89zJUlLQeu6Jl-sOl6M3A&utm_source=whatsappARK Podcast · Episode